Senin, 08 April 2013

Tempat Bermain Penitipan Anak



BERMAIN dan ANAK
W. S. Nugroho

Mengapa Bermain ?
                Suatu aktivitas yang langsung, spontan di mana seorang anak berinteraksi dengan orang lain, benda-benda di sekitarnya, dilakukan dengan senang (gembira), atas inisiatif sendiri, menggunakan daya khayal (imaginatif), menggunakan panca indera, dan seluruh anggota tubuhnya.

Siapakah anak itu? Anak adalah Pribadi yang unik dipengaruhi oleh factor bawaan alami (ayah dan ibu) dan factor lingkungan di sekitar mereka.
 Kemampuan Anak:

  • Anak memiliki ritme perkembangan yang berbeda

  • Anak Bermain untuk memperoleh sesuatu dengan cara bereksplorasi dan bereksperimen tentang dunia di sekitarnya dalam rangka membangun pengetahuan diri sendiri (Self Knowledge),  Fisical Knowledge, Logico-math Knowledge, Self Knowledge, Social Knowledge

Bermain dilakukan  atas inisiatif anak , keputusan anak  dengan dukungan guru/orang dewasa (Scaffolding)

Anak seharusnya mampu melakukan percobaan dan penelitian sendiri. Guru, tentu saja, dapat enuntun anak-anak dengan menyediakan bahan-bahan yang tepat, tetapi yang terpenting agar anak dapat memahami sesuatu, ia harus membangun pengertian itu sendiri, ia harus menemukannya sendiri
(Jean Piaget 1972, p.27)

Tahapan Perkembangan Anak:

  • Usia 0-6 bulan :  Belajar dengan melihat (learning by watching)
  • Usia 6 bln-1 tahun : Belajar dengan menyentuh (learning by touching)
  • Usia 2 – 6 tahun : Belajar dengan melakukan kegiatan (learning by doing)


Syarat Permainan :

  • Memenuhi kebutuhan 3 jenis main, main Sensorimotor, main Peran dan main Pembangunan
  • Cukup Waktu/intensitas
  • Cukup ragam bahan/alat dan cara main (Densitas)
  • Penataan Lingkungan Main

ü  Penempatan alat main yang tepat memungkinkan anak : Mandiri, disiplin, bertanggung jawab, memulai dan mengakhiri main, klasifikasi
ü  Penataan alat dan bahan selama main seharusnya mendukung anak: Membuat keputusan sendiri, mengembangkan ide, menuangkan ide menjadi karya nyata, mengembangkan kemampuan sosial
ü  Penataan alat dan bahan main memungkinkan anak main sendiri, main berdampingan, main bersama dan main bekerjasama

  • Peran Guru /Orangtua/Pengasuh
  • Guru/Orangtua sebagai partner, nurture, dan pemandu
  • Lingkungan sebagai guru ketiga
  • Guru/Orangtua sebagai peneliti
  • Guru/Orangtua sebagai fasilitator yang memberikan dukungan saat anak membangun pengetahuan fisik, logika-matematika, sosial, untuk membangun pengetahuan diri sendiri.


Sabtu, 26 November 2011

Pendaftaran Siswa Baru

LEMBAGA PENDIDIKAN ISLAM SALSABIL
RA/TK ISLAM SALSABIL


MENERIMA SISWA BARU
TAHUN AJARAN 2013/2014


MULAI TANGGAL 08 FEBRUARI 2013

INFORMASI:
TAMAN PINANG INDAH AA 7 No. 19 SIDOARJO
TELEPON (031) 70064223


Senin, 20 September 2010

CALISTUNG harus BISA ?

Balita Diajarkan Calistung, Saat SD Potensi Terkena 'Mental Hectic'
18/07/2010 - 12:25:44 | Read 101 Time(s)

"REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA--Anak usia di bawah lima tahun (balita) sebaiknya tak buru-buru diajarkan baca tulis dan hitung (calistung). Jika dipaksa calistung si anak akan terkena 'Mental Hectic'."

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA--Anak usia di bawah lima tahun (balita) sebaiknya tak buru-buru diajarkan baca tulis dan hitung (calistung). Jika dipaksa calistung si anak akan terkena 'Mental Hectic'.

''Penyakit itu akan merasuki anak tersebut di saat kelas 2 atau 3 Sekolah Dasar (SD). Oleh karena itu jangan bangga bagi Anda atau siapa saja yang memiliki anak usia dua atau tiga tahun sudah bisa membaca dan menulis,'' ujar Sudjarwo, Direktur Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Ditjen PNFI Kemendiknas, Sabtu (17/7).

Oleh karena itu, kata Sudjarwo, pengajaran PAUD akan dikembalikan pada 'qitah'-nya. Kemendiknas mendorong orang tua untuk menjadi konsumen cerdas, terutama dengan memilih sekolah PAUD yang tidak mengajarkan calistung.
Saat ini banyak orang tua yang terjebak saat memilih sekolah PAUD. Orangtua menganggap sekolah PAUD yang biayanya mahal, fasilitas mewah, dan mengajarkan calistung merupakan sekolah yang baik. ''Padahal tidak begitu, apalagi orang tua memilih sekolah PAUD yang bisa mengajarkan calistung, itu keliru,'' jelas Sudjarwo.

Sekolah PAUD yang bagus justru sekolah yang memberikan kesempatan pada anak untuk bermain, tanpa membebaninya dengan beban akademik, termasuk calistung. Dampak memberikan pelajaran calistung pada anak PAUD, menurut Sudjarwo, akan berbahaya bagi anak itu sendiri. ''Bahaya untuk konsumen pendidikan, yaitu anak, terutama dari sisi mental,'' cetusnya.

Memberikan pelajaran calistung pada anak, menurut Sudjarwo, dapat menghambat pertumbuhan kecerdasan mental. ''Jadi tidak main-main itu, ada namanya 'mental hectic', anak bisa menjadi pemberontak,'' tegas dia.
Kesalahan ini sering dilakukan oleh orang tua, yang seringkali bangga jika lulus TK anaknya sudah dapat calistung. Untuk itu, Sudjarwo mengatakan, Kemendiknas sedang gencar mensosialisasikan agar PAUD kembali pada fitrahnya. Sedangkan produk payung hukumnya sudah ada, yakni SK Mendiknas No 58/2009. ''SK nya sudah keluar, jadi jangan sembarangan memberikan pelajaran calistung,'' jelasnya.

Sosialisasi tersebut, kata Sudjarwo, telah dilakukan melalui berbagai pertemuan di tingkat kabupaten dan provinsi. Maka Sudjarwo sangat berharap pemerintah daerah dapat menindaklanjuti komitmen pusat untuk mengembalikan PAUD pada jalurnya. ''Paling penting pemda dapat melakukan tindak lanjutnya,'' jawab dia.

Sementara itu, pada kesempatan yang sama, Srie Agustina, Koordinator Komisi Edukasi dan Komunikasi Badan Perlindungan Konsumen Nasional (BPKN), menyatakan, memilih mensosialisasikan produk pendidikan merupakan bagian dari fungsi dan tugas BPKN untuk melakukan perlindungan terhadap konsumen.

Dalam hal ini, kata Srie, BPKN memprioritaskan sosialisasi pada anak usia dini. Sebab berdasarkan Konvensi Hak Anak, setiap anak memiliki empat hak dasar. Salah satunya adalah hak untuk mendapatkan perlindungan dalam kerugian dari barang dan produk, termasuk produk pendidikan. ''Untuk itu sejak dini anak dilibatkan, karena di usia itulah pembentukan karakter terjadi,'' papar Srie.

Namun menurut Srie, mengedukasi tentang sebuah produk harus menggunakan metode khusus. Tidak dapat berwujud arahan dan larangan, namun dengan cara yang menyenangkan, salah satunya dengan festival mewarnai sebagai salah satu teknik untuk memberikan edukasi. ''Dengan mewarnai, mereka bisa terlibat dan merasa lebur di dalamnya, selain itu dalam gambar yang diwarnai tersebut disisipkan pesan-pesan yang ingin disampaikan,'' pungkasnya.

Minggu, 07 Februari 2010

Sabtu, 12 Juli 2008

Salsabil Taman, Tempat Penitipan Anak Sidoarjo

Salsabil Center Taman Pinang Indah AA7/19 Sidoarjo Telp. (031)70064223
Sakinah Center Surabaya Jln. Ubi VI No. 25 Surabaya Telp. (031)81563013